SANANA,Persadanusa.com–Stigma sekolah Desa tertinggal, di tepis tuntas oleh SMP Negeri 2 Sulabesi Barat. Sekolah yang beralamat di Jln. Fatparoma Desa Nahi, Kecamatan Sulabesi Barat, Kabupaten Kep. Sula, Provinsi Maluku Utara.
Ini membuktikan bahwa jarak 35 kilometer dari pusat kota Sanana bukanlah alasan untuk tertinggal dalam membangun karakter generasi.

Buktinya, sekolah dibawah kepemimpinan M. Nur Naipon, S.Pd.I tersebut menggelar” Sosialisasi Bahaya Pergaulan Bebas dan Upaya Pencegahannya. Dengan konsep yang kalah dari sekolah-sekolah dipusat Kabupaten. Kegiatan yang berlangsung di aula pertemuan itu diikuti puluhan siswa dengan khidmat. Dengan layar interaktif digital sebagai media pembelajaran.

Kepala Sekolah M. Nur Naipon S.Pd.I dalam arahanya menegaskan perbedaan tantangan yang di hadapi siswa Desa dan Kota saat ini sudah sangat tipis. Jika dulu ancaman pergaulan bebas identik dengan kehidupan kota. Kini arusnya sudah sama derasnya hingga ke Desa.
“Anak-anak di Sanana tantanganya adalah pilihan tempat dan pergaulan. Kalau di Desa Nahi anak-anak derasnya informasi tanpa filter yang masuk melalui gawai, sama berbahayanya, karena itu. Saya katakan kepada mereka jangan minder jadi anak desa, justru dari desa inilah kita harus tunjukan karakter yang lebih kuat dari anak kota. Kota boleh lebih ramai tapi Nahi harus lebih berkarakter, “ucap Kepsek Dengan nada tegasnya.

Pesan Kepala sekolah tersebut dikupas lebih tajam oleh Aryati Soamole. Menurutnya, membentengi siswa tidak bisa dengan menakut-nakuti melainkan dengan membangun kesadaran jati diri yang sesuai dengan realitas lokal.
“Dikota, anak harus pandai memilih mana pergaulan yang membangun dan mana yang menjerumuskan di tengah keramaian. Didesa seperti Nahi , Anak harus pandai menjaga diri di tengah kuatnya rasa kebersamaan. Jangan karena tidak enak hati, semua ajakan di ikuti. Itu bukan solidaritas, itu mengorbankan masa depan, “ujar Aryati Soamole.

Selain itu, Kepala sekolah tersebut juga menambahkan, tiga benteng utama yang harus dipegang siswa Sulabesi Barat, khususnya SMPN 2 di Desa Nahi ini, pertama benteng Agama, dan Adat Sula sebagai identitas, kedua, Jadikan sekolah sebagai pusat kreatifitas, bukan sekedar tempat belajar dan benteng komunikasi, dengan tidak ragu melapor dan berdiskusi kepada guru dan orang tua. “pesannya.

Dari Desa Nahi, SMPN 2 Sulabesi Barat mengirimkan pesan nasional: Membangun Sumber Daya Manusia Unggul tidak harus menunggu dari kota. Ia bisa, dan sudah dimulai dari desa. “tutupnya. Selasa (03/11/2026).PU-01












